Sunday, September 26, 2010

Cerita bermoral

Ada satu cerita pendek yang baru saya baca kembali dari buku Cerpen Pustaka Bobo yang saya beli kira-kira tahun 2006. Cerita ini memiliki pesan moral yang sangat tinggi tentang ulah perbuatan manusia abad 20. Buku kumpulan cerpen tersebut berjudul: Istana Anak Milenium III. Langsung saja ceritanya seperti berikut.

Bahagianya Anak Abad XX
Oleh Joni

"Kita main di luar, yuk!" ajak Buby pada kakaknya, Mumy.
"Tidak!" kata Mumy, "Terlalu berbahaya. Sinar ultraviolet matahari akan merusak kulit dan muka kita."
"Tapi aku bosan terus berada di dalam rumah kubah ini," keluh Buby.
"Begini saja, bagaimana kalau kita ke perpustakaan?" ajak Mumy.
"Apa enaknya ke perpustakaan?" sungut Buby lagi.
"Kita lihat cara hidup anak-anak manusia purba. Menurut cerita, hidup mereka sangat menyenangkan."
"Baiklah."

Di perpustakaan, mereka mencari arsip-arsip manusia purba di komputer super canggih. Komputer itu bisa menampilkan gambar dan suara.

"Nah, ketemu!" seru Mumy gembira. Di monitor komputer tampak sebuah tulisan: Kehidupan Anak-Anak Abad XX.

Selanjutnya layar monitor menampilkan film cara hidup anak-anak abad XX. Mulai dari bangun pagi, mandi, membereskan tempat tidur. Lalu pergi sekolah, belajar, bermain dengan teman-teman, makan siang. Bahkan layar monitor juga menampilkan film anak-anak yang main layangan, nonton TV, atau ke mal bersama kedua orang tua mereka.

"Bahagia sekali anak-anak abad XX," kata Buby setelah melihat semua tayangan itu.
"Setiap hari mereka bisa bermain di luar rumah tanpa takut terkena sengatan sinar matahari. Lingkungan mereka juga masih asri. Di mana-mana terdapat pepohonan. Tidak seperti kita yang hidup di abad 25 ini. Setiap hari harus pakai baju perak dan kacamata biru untuk menghindari sengatan sinar ultraviolet matahari yang berlebihan. Dan lihat alam kita! Kering kerontang tanpa sebatang pohon. Terus, makanan mereka kelihatannya enak-enak sekali. Ada ayam, ikan, sayur, jeruk, dan... apa itu? Sayuran yang disiram kuah kacang?"
"Pecal," jawab Mumy.
"Ya pecal. Hmm, nikmat sekali. Dan kita... Huh! makanan kita cuma kapsul. Setiap hari hanya menelan kapsul. Aku bosan!" Buby makin cemberut.
"Semua ini karena salah nenek moyang kita. Senjata kimia yang dipergunakan saat mereka perang. telah merusak lapisan ozon. Akibatnya sinar matahari terlalu terik dan merusak ekosistem bumi. Seandainya manusia sebelum perang dunia III tahu akibat dari perang itu. Mereka pasti akan berusaha mencegahnya."
"Mum, kita kan bisa pergi menemui mereka dengan pesawat waktu penemuan Ayah! Ayo, kita peringatkan mereka!" ajak Buby bersemangat.
"Tapi... apa mereka mau percaya?" Mumy ragu.
"Kita coba saja dulu."

Buby dan Mumy langsung bergegas masuk ke mesin pesawat waktu yang berbentuuk piring. Mereka menekan tombol yang memutar mundur 500 tahun.

Tetapi, ketika mereka muncul, manusia abad XX berlarian ketakutan. Mereka dianggap mahluk luar angkasa yang ingin menguasai bumi. Buby dan Mumy lalu dikerjar-kejar pesawat temput. Untunglalh mereka bisa menyelamatkan diri dan kembali ke abad 25.

Keesokan harinya, Buby dan Mumy kembali memeriksa arsip abad XX. Mereka menemukan sebuah artikel yang menarik di monitor komputer. Mumy membaca artikel itu dengan suara lantang, "Ilmuwan abad XX sibuk menyelidiki kemunculan pesawat UFO..."

Ketika melihat foto pesawat yang disebut UFO tersebut, Buby berteriak kaget.

"Itu kan pesawat kita. Gila, kita disangka mahluk luar angkasa!"

Walaupun demikian, Buby dan Mumy tidak putus asa. Mereka tetap berulang-ulang mencoba memperingatkan manusia abad XX. Walau mereka tidak disambut baik dan dianggap mahluk angkasa luar oleh manusia abad XX.

Nah, jadi jangan terkejut jika suatu hari kau pun dikunjungi sebuah piring terbang. Penumpangnya barangkali Buby dan Mumy.

Kesimpulannya, mari kita galang perdamaian dunia sebelum terlambat. Tanamkan pada hati kita untuk tetap bersemangat membela kedamaian! Jangan merusak kedamaian dunia agar kelak anak cucu kita dapat menikmati hidup mereka tanpa menggunakan pakaian yang aneh serta kacamata anti ultraviolet agar mereka bisa menikmati alam seperti sekarang yang sedang kita nikmati.

No comments:

Post a Comment